NPM : 17 630 093
TUGAS
01 : STATISTIK/PROBABILITAS
TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL DALAM METODOLOGI PENELITIAN
Pengertian Teknik Sampling (Pengambilan
Sampel)
Teknik sampling
adalah merupakan teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2001: 56). (Margono,
2004: 125) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan teknik sampling adalah cara
untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan
dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan
penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.Untuk menentukan
sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling
yang digunakan. Secara skematis, menurut (Sugiyono, 2001: 57) teknik sampling
ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Dari gambar di atas
terlihat bahwa teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua
yaitu Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. Probability sampling meliputi:
simple random sampling, proportionate stratified random sampling,
disproportionate stratified random sampling, dan area (cluster) sampling
(sampling menurut daerah). Nonprobability sampling meliputi: sampling
sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling
jenuh, dan snowball sampling.
Teknik
Pengambilan Sampel :
Nonprobability
Sampling
Pengertian Nonprobability
Sampling atau Definisi Nonprobability
Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak
memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau
anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik Sampling
Nonprobality ini meliputi : Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling
Insidental, Purposive Sampling, Sampling Jenuh, Snowball Sampling.
1.
Sampling
Sistematis
Pengertian Sampling
Sistematis atau Definisi Sampling Sistematis adalah teknik
pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang
telah diberi nomor urut.Contoh Sampling Sistematis, anggota populasi yang
terdiri dari 100 orang, dari semua semua anggota populasi itu diberi nomor
urut 1 sampai 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mengambil nomor
ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya
kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel adalah
nomor urut 1, 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
2.
Sampling
Kuota
Pengertian Sampling
Kuota atau Definisi Sampling Kuota adalah teknik untuk
menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah
kuota yang diinginkan.Contoh Sampling Kuota, akan melakukan penelitian
tentang Karies Gigi, jumlah sampel yang ditentukan 500 orang, jika
pengumpulan data belum memenuhi kuota 500 orang tersebut, maka penelitian
dipandang belum selesai. Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang
terdiri atas 5 orang pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus dapat
menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari
data dari 500 anggota sampel.
3.
Sampling
Insidental
Pengertian Sampling
Insidental atau Definisi Sampling Insidental adalah teknik
penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan
atau insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila
dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
4.
Purposive
Sampling
Pengertian Purposive
Sampling atau Definisi Purposive Sampling adalah teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Contoh Purposive Sampling,
akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya
adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk Penelitian
Kualitatif atau penelitian yang tidak melakukan generalisasi.
5.
Sampling
Jenuh (Sensus)
Pengertian Sampling
Jenuh atau Definisi Sampling Jenuh adalah teknik penentuan
sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering
dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau
penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.
6.
Snowball
Sampling
Pengertian Snowball
Sampling atau Definisi Snowball Sampling adalah teknik penentuan
sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar.
Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar.
Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang sampel, tetapi
karena dengan dua orang sampel ini belum merasa lengkap terhadap data yang
diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat
melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sampel sebelumnya. Begitu
seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Pada penelitian kualitatif
banyak menggunakan sampel Purposive dan Snowball. Contohnya akan meneliti siapa
provokasi kerusuhan, maka akan cocok menggunakan Purposive
Sampling dan Snowball Sampling.
Cara Pengambilan Sampel dengan
Probabilitas Sampling Ada empat macam teknik pengambilan sampel yang termasuk
dalam teknik pengambilan sampel dengan probabilitas sampling. Keempat teknik
tersebut, yaitu cara acak, stratifikasi, klaster, dan sistematis.
Teknik memilih secara acak dapat
dilakukan baik dengan manual atau tradisional maupun dengan menggunakan tabel
random.
1.
Cara
Tradisional
Cara tradisional ini dapat dilihat dalam kumpulan ibu-ibu ketika
arisan. Teknik acak ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut:
1.
Tentukan
jumlah populasi yang dapat ditemui
2.
Daftar
semua anggota dalam populasi, masukkan dalam kotak yang telah diberi lubang
penarikan
3.
Kocok
kotak tersebut dan keluarkan lewat lubang pengeluaran yang telah dibuat
4.
Nomor
anggota yang keluar adalah mereka yang ditunjuk sebagai sampel penelitian
5. Lakukan terus sampai jumlah yang diinginkan dapat dicapai.
2.
Menggunakan
Tabel Acak
Pada cara kedua ini, proses pemilihan subjek dilakukan dengan
menggunakan tabel yang dihasilkan oleh komputer dan telah diakui manfaatnya
dalam teori penelitian. Tabel tersebut umumnya terdiri dari kolom dan angka
lima digit yang telah secara acak dihasilkan oleh komputer.
Dengan menggunakan tabel tersebut, angka-angka yang ada
digunakan untuk memilih sampel dengan langkah sebagai berikut:
1.
identifikasi
jumlah total populasi
2.
tentukan
jumlah sampel yang diinginkan
3.
daftar
semua anggota yang masuk sebagai populasi
4.
berikan
semua anggota dengan nomor kode yang diminta, misalnya: 000-299 untuk populasi
yang berjumlah 300 orang, atau 00-99 untuk jumlah populasi 100 orang
5.
pilih
secara acak (misalnya tutup mata) dengan menggunakan penunjuk pada angka yang
ada dalam tabel
6.
pada
angka-angka yang terpilih, lihat hanya angka digit yang tepat yang dipilih.
Jika populasi 500 maka hanya 3 digit dari akhir saja. Jika populasi mempunyai
anggota 90 maka hanya diperlukan dua digit dari akhir saja
7.
jika
angka dikaitkan dengan angka terpilih untuk individual dalam populasi menjadi
individu dalam sampel. Sebagai contoh, jika populasinya berjumlah 500, maka
angka terpilih 375 masuk sebagai individu sampel. Sebaliknya jika populasi
hanya 300, maka angka terpilih 375 tidak termasuk sebagai individu sampel
8.
gerakan
penunjuk dalam kolom atau angka lain
9.
ulangi
langkah nomor 8 sampai jumlah sampel yang diinginkan tercapai. Ketika jumlah
sampel yang diinginkan telah tercapai maka langkah selanjutnya adalah membagi
dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sesuai dengan bentuk desain
penelitian.
Contoh Memilih Sampel dengan Sampling
Acak Seorang kepala sekolah ingin melakukan studi terhadap para siswa yang ada
di sekolah. Populasi siswa SMK ternyata jumlahnya 600 orang. Sampel yang
diinginkan adalah 10% dari populasi. Dia ingin menggunakan teknik acak, untuk
mencapai hal itu, dia menggunakan langkah-langkah untuk memilih sampel seperti
berikut. Populasi yang jumlahnya 600 orang diidentifikasi. Sampel yang
diinginkan 10% x 600 = 60 orang. Populasi didaftar dengan diberikan kode dari
000-599. Tabel acak yang berisi angka random digunakan untuk memilih data
dengan menggerakkan data sepanjang kolom atau baris dari tabel. Misalnya
diperoleh sederet angka seperti berikut: 058 710 859 942 634 278 708 899 Oleh
karena jumlah populasi 600 orang maka dua angka terpilih menjadi sampel yaitu:
058 dan 278. Coba langkah d sampai diperoleh semua jumlah 60 responden.
3.
Teknik
Stratifikasi
Dalam penelitian pendidikan maupun
penelitian sosial lainnya, sering kali ditemui kondisi populasi yang ada
terdiri dari beberapa lapisan atau kelompok individual dengan karakteristik
berbeda. Di sekolah, misalnya ada kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Mereka
juga dapat dibedakan menurut jenis kelamin responden menjadi kelompok laki-laki
dan kelompok perempuan. Di masyarakat, populasi dapat berupa kelompok
masyarakat, misalnya petani, pedagang, pegawai negeri, pegawai swasta, dan
sebagainya. Keadaan populasi yang demikian akan tidak tepat dan tidak
terwakili; jika digunakan teknik acak. Karena hasilnya mungkin satu kelompok
terlalu banyak yang terpilih sebagai sampel, sebaliknya kelompok lain tidak
terwakili karena tidak muncul dalam proses pemilihan.
Teknik yang paling tepat dan mempunyai
akurasi tinggi adalah teknik sampling dengan cara stratifikasi. Teknik
stratifikasi ini harus digunakan sejak awal, ketika peneliti mengetahui bahwa
kondisi populasi terdiri atas beberapa anggota yang memiliki stratifikasi atau
lapisan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Ketepatan teknik stratifikasi
juga lebih dapat ditingkatkan dengan menggunakan proporsional besar kecilnya
anggota lapisan dari populasi ditentukan oleh besar kecilnya jumlah anggota populasi
dalam lapisan yang ada.
Seperti halnya teknik memilih sampel
secara acak, teknik stratifikasi juga mempunyai langkah-langkah untuk
menentukan sampel yang diinginkan. Langkah-langkah tersebut dapat dilihat
seperti berikut : Identifikasi jumlah total populasi. Tentukan jumlah sampel
yang diinginkan. Daftar semua anggota yang termasuk sebagai populasi. Pisahkan
anggota populasi sesuai dengan karakteristik lapisan yang dimiliki. Pilih
sampel dengan menggunakan prinsip acak seperti yang telah dilakukan dalam
teknik random di atas. Lakukan langkah pemilihan pada setiap lapisan yang ada.
Sampai jumlah sampel dapat dicapai.
Contoh menentukan sampel dengan teknik
stratifikasi Seorang peneliti ingin melakukan studi dari suatu populasi guru
SMK yang jumlahnya 900 orang, sampel yang diinginkan adalah 10% dari populasi.
Dalam anggota populasi ada tiga lapisan guru, mereka adalah yang mempunyai
golongan dua, golongan tiga, dan golongan empat. Dia ingin memilih sampel
dengan menggunakan teknik stratifikasi. Terangkan langkah-langkah guna
mengambil sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi tersebut. Jawabannya
adalah sebagai berikut. Jumlah total populasi adalah 900 orang. Daftar semua
anggota yang termasuk sebagai populasi dengan nomor 000-899. Bagi populasi
menjadi tiga lapis, dengan setiap lapis terdiri 300 orang. Undilah sampel yang
diinginkan 30% x 900 = 270 orang. Setiap lapis mempunyai anggota 90 orang.
untuk lapisan pertama gerakan penunjuk (pensil) dalam tabel acak. Dan pilih
dari angka tersebut dan ambil yang memiliki nilai lebih kecil dari angka 899
sampai akhirnya diperoleh 90 subjek. Lakukan langkah 6 dan 7 untuk Iapis kedua
dan ketiga sampai total sampel diperoleh jumlah 270 orang.
4.
Teknik
Klaster
Teknik klaster merupakan teknik
memilih sampel lainnya dengan menggunakan prinsip probabilitas. Teknik ini
mempunyai sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan kedua teknik yang telah
dibahas di atas. Teknik klaster atau Cluster Sam¬pling ini memilih sampel bukan
didasarkan pada individual, tetapi lebih didasarkan pada kelompok, daerah, atau
kelompok subjek yang secara alami berkumpul bersama. Teknik klaster sering
digunakan oleh para peneliti di lapangan yang wilayahnya mungkin luas. Dengan
menggunakan teknik klaster ini, mereka lebih dapat menghemat biaya dan tenaga
dalam menemui responden yang menjadi subjek atau objek penelitian.
Memilih sampel dengan menggunakan
teknik klaster ini mempunyai beberapa langkah seperti berikut:
1.
Identifikasi
populasi yang hendak digunakan dalam studi
2.
Tentukan
besar sampel yang diinginkan.
3.
Tentukan
dasar logika untuk menentukan klaster.
4.
Perkirakan
jumlah rata-rata subjek yang ada pada setiap klaster.
5.
Daftar
semua subjek dalam setiap klaster dengan membagi antara jurnlah sampel dengan
jumlah klaster yang ada.
6.
Secara
random, pilih jumlah angggota sampel yang diinginkan untuk setiap klaster.
7.
Jumlah
sampel adalah jumlah klaster dikalikan jumlah anggota populasi per klaster.
Contoh terapan pemilihan sampel dengan
menggunakan teknik klasterMisalkan seorang peneliti hendak melakukan studi pada
populasi yang jumlahnya 4.000 guru dalam 100 sekolah yang ada. `Sampel yang
diinginkan adalah 400 orang. Cara yang digunakan adalah teknik sampel secara
klaster dengan sekolah sebagai dasar penentuan logis klaster yang ada.
Bagaimanakah langkah menentukan sampel tersebut?
Jawabannya adalah sebagai berikut.
Total populasi adalah 4.000 orang. Jumlah sampel yang diinginkan 400 orang.
Dasar logis klaster adalah sekolah yang jumlahnya ada 100. Dalam populasi,
setiap sekolah adalah 4.000/100 = 40 guru setiap sekolah. Jumlah klaster yang
ada adalah 400/40 = 10. Oleh karena itu, 10 sekolah di antara 100 sekolah
dipilih secara random. Jadi, semua guru yang ada dalam 10 sekolah sama dengan
jumlah sampel yang diinginkan.
5.
Teknik
Secara Sistematis
Teknik memilih sampel yang keempat
adalah teknik sistematis atau systematic sampling. Teknik pemilihan ini
menggunakan prinsip proporsional. Caranya ialah dengan menentukan pilihan
sampel pada setiap 1/k, di mana k adalah suatu angka pembagi yang telah ditentukan
misalnya 5,6 atau 10. Syarat yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah
adanya daftar atau list semua anggota populasi. Untuk populasi yang didaftar
atas dasar urutan abjad pemakaian metode menggunakan teknik sistematis juga
dapat diterapkan. Walaupun mungkin saja terjadi bahwa suatu nama seperti nama
yang berawalan su, sri dalam bahasa Indonesia akan terjadi pengumpulan nama
dalam awalan tersebut. Sisternatis proporsional k dapat memilih dengan baik.
6.
Teknik
observasi lapangan khusus
Untuk penelitian di lokasi tambang
Pengumpulan Data penelitian Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan
pengamatan langsung di lapangan. Mengamati tidak hanya melihat, melainkan
merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian yang ada di lapangan. Teknik
ini ada dua macam, yaitu observasi langsung (observasi partisipasi) yaitu
apabila pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejalagejala pada
objek yang dilakukan secara langsung di tempat kejadian, dan observasi tidak
langsung (observasi non-partisipasi) yaitu pengumpulan data melalui pengamatan
dan pencatatan gejala-gejala pada objek tidak secara langsung di lapangan.
Beberapa cara yang biasa dilakukan dalam observasi adalah sebagai berikut:
1.
Membuat catatan anekdot (anecdotal record),
yaitu catatan informal yang digunakan pada waktu melakukan observasi.
Catatan ini berisi fenomena atau peristiwa yang terjadi saat observasi.
2.
Membuat
daftar cek (checklist), yaitu daftar yang berisi catatan setiap faktor
secara sistematis. Daftar cek ini biasanya dibuat sebelum observasi dan
sesuai dengan tujuan observasi.
3.
Membuat
skala penilaian (rating scale), yaitu skala yang digunakan untuk
menetapkan penilaian secara bertingkat untuk mengamati kondisi data secara
kualitiatif.
4.
Mencatat
dengan menggunakan alat (mechanical device), yaitu pencatatan yang
dilakukan melalui pengamatan dengan menggunakan alat, misalnya slide,
kamera, komputer, dan alat perekam suara. Observasi tersebut dapat terbentang
mulai dari kegiatan pengumpulan data yang formal hingga yang tidak
formal. Bukti observasi seringkali bermanfaat untuk memberikan
informasi tambahan tentang topik yang akan diteliti. Observasi dapat
menambah dimensi-dimensi baru untuk pemahaman konteks maupun fenomena yang
akan diteliti. Observasi tersebut bisa begitu berharga sehingga
peneliti bisa mengambil foto-foto pada situs studi kasus untuk
menambah keabsahan penelitian (Dabbs, 1996: 113).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar